Monday, January 2, 2012

Catatan di Akhir Perjalanan

kadang aku bingung dengan segala realitas hidup.
tak pernah sekalipun terpikirkan untuk membelakangi garis takdir ini.
tapi kadang juga aku takut dengan realitas hidup,
yang meyakinkan bahwa aku tak pernah sanggup memangku lagi semua rasa yang ada di hati ini.
kadang aku juga tak bisa membedakan yang mana kasih sayang dan yang mana kebencian.
semua berbeda tipis.

hanya tinggal sebuah tnya yang akan terus kusisipkan tanpa ada yang memahami.
dialah sebuah pencarian, yang akan kutekuni hingga mati.


mungkin orang-orang akan selalu bertanya hingga aku membongkar semua rahasia yang terpendam.
tapi aku pastikan folder itu akan selalu terkunci dengan aman.
biarkan aku saja yang tahu apa isinya.

akan kuubah dunia dengan isi folder itu.
FOLDER yang selama ini terkunci, hingga aku mati.

******************

secuplik harapan yang tersimpan, kini terasa akan semakin jauh
betapa aku akan menghadapi hujanan airmata yang bertubi-tubi di saat ini
ada sebuah rahasia yang harus kutukarkan dengan harga diri
ah, tapi apa artinya harga diri ketika perjuangan yang kutempuh tak lagi dianggap sebuah arti
akhirnya, tiba di ujung perjuangan
kala aku tak mampu lagi menatap ke depan sendiri, dan berjuang seperti dulu

sebuah realitas hidup,
aku sang bungsu yang hidup di antara kerumitan persaudaraan. kisah kedua orang tua yang melankolis sejak dulu. tak pernah terlihat senyum di bibir mereka. seorang buruh yang hidup hanya untuk sesuap nasi. penhasilan tak lebih dari 20 ribu sehari, dengan pendamping nya, ibu yang seorang pejuang rumah tangga. melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka dengan mempertaruhkan nyawa dan harga sebuah perjuangan, hingga tua renta. tak lelah mengkais rezeki, daripada hidup berkalang mengemis dengan mimik memelas dan hina.

sebuah relitas hidup,
aku sang bungsu yang dikatakan sangat beruntung hidup sebagai anak terkahir, menjadi kesayangan orang tua, tak pernah takut untuk sengsara dan bertungkus lumus memamah berjuta asam-garam hidup, seperti yang dirasakan mereka, kakak-kakakku. ya, mereka yang katanya tak mampu dibiayai sekolah sejak dini, mereka yang hanya bisa menjadi kuli, supir, tukang kebun, TKW, dan pedagang pecel yang kerap kali menjadi pengangguran lantaran tak berijazah sekolah formal. Hingga suatu ketika kehidupan baru menjemput mereka, bersama suami dan istri mereka, pergi meninggalkan rentanya orang tua, beralasan bahwa "sudah tak saatnya lagi membantu orang tua, telah cukup sudah!".

sebuah realitas hidup,
aku sang bungsu yang sejak kecil hanya bisa terbata-bata mengeja semua gejala kehidupan sendiri. merasakan di perantauan, ditinggal seisi keluarga yang menjadi TKI di negara orang, saban hari. bermain dengan lelaki-lelaki kecil memanjat pohon dan tebing, bersepeda, memancing, dan bertukar seragam senyuman dengan hari yang terik. hanya tahu bahwa hidup itu adalah kekosongan yang harus kuisi dengan ceria dan senyuman. hanya berteman dengan seekor kucing kecil, yang bisa membuat aku lupa bahwa hari itu aku tak bisa apa-apa. ketika saat teman-teman pergi ke bangku sekolah, aku hanya bisa mengikuti dari belakang. dan, kukayuh sepeda kencang-kencang sambil mengendap ke mana mereka pergi. ternyata, ke sebuah sekolah kebangsaan, ya.. mereka belajar mengeja dan menulis, bermain, dan ceria. sedangkan aku, hanya bisa mengintip di balik jendela yang tinggi. sesaat, sang cikgu menoleh, hingga aku ketakutan dan membalikkan badan, berlari... sekencang mungkin, bersepeda, dan berusaha mencapai jalan menuju rumah. degup kencang rasa bersalah... aku telah merusak pemandangan sekolah kebangsaan hari itu. ah, betapa kecilnya diri ini. aku harusnya sadar bahwa aku bukanlah orang yang tepat untuk berada di sana. tak pernah akan mampu aku duduk di kursi pendidikan seperti itu. dan akhirnya, aku memasuki rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. entah ke mana sepeda yang kupakai tadi. segera kulempar badanku ke arah pembaringan di dapur rumah. dan memeluk betisku rapat-rapat... aku menangis, dan menangis.


dan, sang bungsu kini mulai letih...
mengayuh secerca harapan yang dulu dia bina...
sejak kecil..
sebuah semangat sejak mendaftar di bangku Sekolah dasar, pada dasarnya dia adalah anak yang cerdas... tak mau merepotkan orang tua. aku harus bisa sukses menjadi apa yang aku inginkan, dengan peluh dan darahku sendiri. hingga, aku harus membanting segenap raga, demi mengenyam pendidikan dlm sgala keterbatasan garis takdir ini.
meluahkan semangat dan keringat demi mencari peringkat satu di sekolah, hanya untuk satu tujuan. tujuan untuk beasiswa, sekolah gratis dan sukses. dan aku.... tak pernah puas dengan semua ini. sebelum aku bisa mengembalikan senyum di kedua bibir ayah dan ibuku

Perempuan itu


Dan kini,
Perempuan itu seolah menjadi benih dalam dekapan mimpi
Bersorak sorai dengan penuh riang
Meski dalam sakit
Dan tangis
Dan ngeri
Dan hampir pupus
Ia tak membuat dunia bisa nyaman
Ia hanya seonggok daging yang mungkin akan menjadi santapan harimau-harimau sunyi

Ah, aku tak bisa melihatnya seperti ini
Susah sungguh,
Susah benar akan melihat segala mimpi dari cermin yang ada
Tak cantik memang,
Tapi dia memiliki dunia yang aku tak punya
Wajah-wajah sepi yang memakan kekecewaan

Akan ada sebuh harapan baru menurutku
Jika memang sebuah harga perjuangannya dapat terbayar
Maka harga sebuah mimpi adalah seharga nyawa
Maka harga sebuah pengorbanan adalah seharga jiwa
Maka harga sebuah keikhlasan adalah seharga raga

Ya,
Dia memang wanita yang aku temukan dalam senapang mimpi
Wanita tegar dengan sejuta impian


Refleksi Diri Seorang Introvert

Setelah 21 tahun.... ingat memori ini, yang terlepas dari rangkaian kata-kata rekan seperjuangan. Berbagai macam atribut luar biasa yang mereka berikan, justru itulah yang menjadi kekuranganku. Aku sadar sepenuhnya justru kelebihan yang dimiliki ini, adalah bumerang untuk diriku sendiri. Kadang aku iri, dengan segala kekurangan yang dimiliki orang lain. Justru karena kekurangan itu, mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik secara berkala, naik satu demi satu tingkat. Katanya, aku tipikal perempuan yang memiliki semangat dan idealisme tinggi. Tapi, justru itulah yang menghalangi aku untuk bekerjasama dengan orang lain, yang memiliki standar di bawahku. Aku juga dikatakan memiliki target terarah. Tapi, justru itu yang membuat orang-orang bosan dengan pola hidupku yang monoton, semua serba direncanakan. Memang, sering juga aku terlihat sangat antusias dan haus pengalaman. Bahkan lupa dengan kewajiban yang harus aku tunaikan terhadap badanku sendiri.
Pembangun ide, tipikal lain dari wajah perempuanku. Bukan hanya membangun, kadang justru aku mendikte mereka dengan ide-ide gila, yang bahkan tak kusadari bahwa telah banyak aku membangun opini negatif dari kolega karena ide itu, sehingga namaku tertanam sebagai perempuan diktator. Meskipun begitu, memang benar aku selalu bersabar. Menjadi penyabar akhirnya membuat aku tenang, namun cukuplah kesabaran itu di ambang batas, aku justru dimanfaatkan orang lain untuk mereka menekan diriku sesuka hati. Sampai akhirnya, pada titik ini, aku dikenal sebagai tipe pengayom dengan caraku sendiri, sang koleris yang mencoba plegmatis. Mungkin, karena aku baik hati dan tenang, tapi aku tak cukup smart seperti apa yang mereka bilang. Aku cuma selalu ingin aktif dalam mengembangkan potensiku sebagai akademisi maupun calon scientist. Ketangguhan dan kecerdasan emosional yang semakin kupertahankan, justru mampu mengubhku menjadi lebih baik. Semoga orang-orang semakin memaknai usahaku dengan melihat bagian baik dari sisiku, bukan melihat bagian baikku sebagai kekurangan seperti yang dikatakan seorang teman.
Aku memang kelihatan lembut, kalem, cool, dan istiqomah. Tapi, semua orang harus tau, bahwa aku tak lebih dari seonggok daging yang kritis akan kehidupan. Aku sering membeturkan kepalaku di tembok-tembok perjalananku yang berliku. Aku sering memarahi diriku sendiri akibat keputusanku sendiri. Memecahkan piring dan gleas hati yang terlihat tenang. Memang air yang beriak tandanya tak dalam, begitupun sebaliknya. Tak selamanya laut yang tenang itu tak berbahaya. Justru aku, aku, aku, aku, mimpiku... duniaku... amat berbeda dengan apa yang aku tampilkan. Dan baru aku sadari bahwa inilah kekuatan dan kelebihan terbesarku. SANG INTROVERT: PEREMPUAN DENGAN SEJUTA RAHASIA. Belum ada satupun orang yang bisa membaca binar dan sayu bola mataku, bahkan orang tuaku sekalipun. Semua adalah cerita di balik tirai yang aku jahit sendiri. Jikapun ada orang yang bisa memenuhi itu, maka dialah orang yang Allah SWT titipkan untuk menjagaku. Karena sejatinya, cuma Dia yang bisa memahamiku apa adanya.

#kutitipkan untuk semua orang yang ingin mengenal aku apa adanya ^^..


Kalau tadi, aku berbicara dengan segala keunggulan yang membuat aku minus di mata orang. Saat ini, aku justru bersyukur dengan kekurangan yang aku punya. Aku sulit ditebak, tertutup, penyendiri, pendiam, dan susah menerima pendapat apalagi percaya sama orang lain. Secara genetik, mungkin inilah yang telah diwariskan dari leluhurku. Tapi, secara perilaku, inilah yang aku ikuti dari lingkunganku. Pasalnya, aku selalu jenuh mendengar orang-orang berkeluh kesah, marah-marah, apalagi menangis tak jelas atau merayaukan apa yang sedang dihadapi mereka. Justru dengan diam dan menyendiri aku merasa lebih tenang.
Aku tak akan merusak hari indah orang-orang yang ada di sekitarku. Bisa dibilang, diam itu memang emas. Emas yang selama ini aku jaga keutuhan dan kemurniannya. Meskipun begitu, aku sadar banyak orang yang menyalahartikan diamku. Mungkin tak banyak orang yang aku temui, paham kondisiku di kala diam dan menyepi menjadi pilihan. Dikiranya, aku tak senang dengan mreka, aku tak senang berjamaah dalam menyelesaikan masalah, aku tak suka ceria bersama-sama dan aku tak bisa hidup dalam ramai. Yah, sejatinya aku tak begitu. Aku cukup diplomatis dan menyenangkan di suatu saat. Bahkan, aku bisa menjadi seperti anak kecil yang suka berkhayal menaiki kapal selam atau terbang di langit memakai sayap dan tongkat ajaib. Ya begitulah, tapi hanya di kala waktunya tepat. Menjadi dewasa itu indah dengan cara kita masing-masing.
Dewasa adalah bisa bersikap di waktu dan saat yang tepat. Dewasaku adalah dengan diam dan menutupi segala gundah yang ada. Agar tak kelihatan, aku harus menutupnya rapat-rapat. Serapat mungkin, untuk tetap menjaga izzahku juga. Memang, tak banyak yang paham dengan maksud dan caraku. Makanya, susah untuk dekat denganku kalau baru kenal sehari. Kalau orang bilang "kamu adalah apa yang kamu pikirkan", justru aku berpikir "aku adalah apa yang orang pikirkan". Ada-ada saja, kekuranganku ini justru menjadikan aku lebih kuat dan tegar untuk memaknai keindahan dan keberagaman di sekitar.
Aku harus elalu ekstra hati-hati dengan segala sikapku, enggan untuk aku menyakiti hati orang lain. Karena aku sendiri sering merasa disakiti oleh orang lain. Hanya dengan diam, menyendiri, kemudian tersenyum di balik genangan air tempaku berkaca. Sudah pada level berapa aku berdiri sebagai seorang pribadi yang unggul secara emosional? itulah aku, terlalu percaya dengan apa yang ada di hatiku. Aku selalu benar dengan cara dan parameterku sendiri. Aku lebih suka bercerita tentang diriku, agar orang lain tak merasa aku sakiti. Karena, jika aku lebih banyak membeicarakan orang lain, maka aku akan berpeluang besar menyaikiti hati mereka. Hanya dengan sebuah "kata" aku bisa dihakimi seperti itu. Aku lebih percaya dengan diriku sendiri, bahasa kalbuku, hati nuraniku, dan itu yang membuat aku berbeda dengan orang kebanyakan. Kekuranganku justru membuat aku bisa sembuh dari penyakit ketergantungan teman atau orang lain, bahkan materi, yang selama ini digandrungi oleh dewasa muda seusiaku.
Karena aku dan kamu berbeda.

#Ceritaku, sekali lagi hanya untuk orang-orang yang ingin mengetahui tentangku, apa adanya. Karena itulah aku: INTROVERT YANG MENYENANGKAN



Ape Nak Jadi....


Sebuah celoteh dari Budak Melayu
Dilhami oleh Gurindam Due Belas Gubahan Raje Ali Haji

Sajak si Atan:

Mak...
Semalam Atan tengok Pak Dolah
Baru pagi pergi sekejap...
Balik waktu Dhuha pegang duit barang serompong
Duduk sorang-sorang dekat beranda
Ketawe senang kerane menang loterai
Hai... anak istri makan duit loterai... Ape Nak Jadi

Sajak Emak:

Atan...
Kau tau yang mane pusake
Kau tau juga yang mane derita
Waktu Dhuha kerje yang berfaedah
Jadikan Sholat sebagai semangat
Supaye hidup tetap selamat

Sajak Atan:

Mak...
Semalamnye lagi, Atan jumpe Kak Fatimah
Gaye die mak... Kece... Kacemate itam,
Bawah rok mini, atas pakai U Can See
Atan tanye... “ni jam mengaji Kak Timah pakai bikini?”
Saje die jawab... “Hari gini? Timmy tak mengajilah Atan, Timmy ade janji di sane”
Hai... Name Timah dah jadi Timmy, Gaye seksi macam Britney... Ape Nak Jadi

Sajak Emak:

Atan... Atan...
Kau tu anak berbudaye
Pusake bangse bukan meniru
Jadilah guru yang digugu dan ditiru
Biar susah sungguh... takkan Melayu hilang di bumi

Sajak Atan:

Mak... Mak...
Semalam dari yang semalamnye lagi, Atan tengok Tivi
Ade tikus pakai dasi, Atan pon tak faham
Duduk lenggang pegang mikrofon,
Gaye boleh macam orang berbudi,
Rase-rasenye merompak harte negeri, tapi
Lime belas kali keluar penjare dalam sebulan, Cume nak jalan-jalan
Hai... sejak bile penjare macam istane... Ape Nak Jadi

Sajak Emak:

Atan.. oi.. Atan...
Kalau perut terlalu penuh... keluar faal yang tak senonoh
Kalau mulut terlalu lebih... keluar niat yang tak berfaedah
Kalau mate tak terpelihare... banyaklah cite-cite
Kalau pandai berkate-kate... di situlah jalan masuk duste
Pelihare mulut.... pelihare kuping... pelihare hati... pelihare pikir...
di situlah hidup selalu ramping

Sajak Atan:

Mak... Mak... Mak...
Semalam seminggu yang lalu, Atan dengar Kabar
Anak Pak Ngah, si Bidin berhenti sekolah...
Katenye Negare menggratiskan... tapi same aje,
Buku bayar, baju bayar, gedung bayar, sampai rapor pon bayar
Tak sanggop Pak Ngah... adelah si Bidin nak kerje,
Hai... kesian pendidikan... Ape Nak Jadi

Sajak Emak:

Atan... Anak Mak... Atan...
Usahe barang usahe, lebih baik
Ape kate dunie, jangan menyerah dengan takdir
Usaha tetap berilmu dan beriman, tande orang yang akan masuk surge
Boleh miskin harte, tapi tak boleh miskin ilmu dan pekerti

Sajak Atan:

Oi... Mak...
Hari ini Atan pon tak tau...
Ape Nak Jadi... dari dulu sampai sekarang
Susah nak cari kerje... ijazah SMP tak laku, harus cari penglaris dulu
Usahe tak bermodal, berilmu tak terpakai,
Jadilah Atan macam ni,
Sehari-hari melaot, tapi ikan pon tak pasti
Harge solar mahal, kapal pakai air pon tak bisa jalan
Hai... maksud hati tak mau mengeluh...
Tapi bumi dah tak senonoh... Ape Nak jadi...

Sajak Emak:

Tu lah engkau Atan...
Mak suruh sekolah... die pergi cari ikan...
Sejak Ayah kau tiade, memang kite yang tanggung semue
Tapi jangan patah semangat Atan, Mak doa’kan... kelak kaulah cahaye Negeri

Kenapa Sendal Jepit?


Kenapa Sendal Jepit?
Oleh : Mulyani Hassan

Di sela-sela menunggu kereta ekonomi di peron 2 menuju arah Jakarta Kota, di bangku panjang paling pojok stasiun Depok Lama, di depan toko minuman, pukul 16.34 WIB, dosenku membuka percakapan,
“Kamu berapa saudara kandung?”,
“Saya delapan bersaudara, Bu. Anak bungsu”, memang begitu adanya, di Indonesia, banyak anak banyak rezeki katanya,
“Semua sudah kerja dan berkeluarga dong?”, ia menarik perhatianku,
“Ah iya, itu tinggal satu lagi kakak perempuan saya, 3 tahun lebih tua dari saya. Nggak lama lagi juga nikah Bu”, setelah itu sepertinya aku,
“Wah, kalau begitu enak dong, banyak yang sayang. Banyak uang jajan”
“Ah, nggak juga, Bu. Kehidupan mereka justru pas-pasan. Untuk sendiri aja nggak cukup, apalagi uang jajan untuk saya. Kehidupan saya justru berbalik dengan apa yang orang pikirkan. Kuliah modal nekad, bekal beasiswa, dan berusaha sendiri untuk kerja. Tak pernah sekalipun berharap untuk dimanja atau disayang layaknya bungsu yang lain”, tapi tetap harus selalu bersyukur, batinku mengatakan itu …..yang paling penting dalam hidup adalah…. sesulit apapun jalan kemandirian itu datang harus dikejar terus tanpa henti.
“Yah... berjuanglah. Saya ternyata lebih beruntung, lahir dari keluarga berada, yang dulunya juga susah. Tapi, saya tak pernah diajarkan hidup mewah, selalu sederhana. Dulu sekali, sekolah masih pakai sendal jepit. Awalnya saya disekolahkan di Sekolah Negeri, tapi baru di kelas 2, atap gedung selalu bocor, buku basah kalau hujan. Akhirnya, saya dipindahkan ke sekolah swasta. Yah... baguslah pelajarannya pun setingkat lebih tinggi daripada sekolah negeri biasa. Sampai akhirnya bisa tembus sekolah ke Jepang. Kehidupan berbeda 180 derajat. Tapi justru itu, hidup di Indonesia dan di Jepang bisa saya bandingkan, yang buat saya belajar tentang kehidupan.”
Dan kereta pun datang...tak sempat berbicara banyak, “hati-hati ya, Bu”, saya masih mau belanja buat jualan”,dosenku menjawab “Ah, kamu jualan? Ya sudah .... Makasih ya, udah temani saya bertemu mereka”, kemudian sosok tubuh yang mungil dan baik itu pun melesat di antara kerumunan orang yang bergelantungan di pintu kereta. Lagi-lagi, aku kagum dan tersenyum melihatnya, angkutan umum yang sungguh luar biasa menjadi favorit, seharga 1500 rupiah, rute dalam kota, tak berasap, dan mampu menampung jutaan ummat. Sampai-sampai berlebih di atas gerbongnya.
Percakapan itu yang selalu aku pikirkan hingga sekarang. Di mana-mana, orang selalu merendahkan sendal jepit, merendahkan sekolah negeri, apalagi kehidupan orang-orang susah di negeri ini.  Padahal katanya, sendal jepit dulu juga asalnya dari Jepang. Soalnya, di tanah kelahiranku disebutnya sendal jepang. Halah, tapi, dosenku itu membuka mata bahwa memang kita bisa banyak belajar dari negara ini. Aku cuma bisa tersenyum. Dosenku yang satu itu, memang luar biasa, kadang ia terlihat begitu arogan dan perfeksionis tentang dirinya yang dididik secara disiplin oleh keluarganya dan saat ia menimba ilmu di Jepang. Banyak hal yang ia beritahukan tentang kerasnya ia sebagai seorang wanita yang sempurna. Tapi, banyak hal pula yang ia sesalkan dari sisi kehidupan kerasnya itu. Ternyata ia selalu bertarung dengan kencangnya jalan kereta ekonomi yang selalu penuh sesak, yang ia rasakan juga di Jepang. Bedanya, di sana kereta penuh dengan keteraturan dan kenyamanan. Bahkan presiden pun mau bertandang ke kereta dan berbicara dengan rakyat jelata. Membayangkan presiden kita, kapan ya masuk kereta?
Kenapa harus jauh-jauh berpikir tentang presiden. Aku harus berpikir untuk diriku sendiri. Sekarang bagaimana aku bisa berjuang untuk bertahan di kota ini. Yah, contohnya aku. Aku juga salah satu anak bungsu yang belajar banyak dari kondisi hidupku yang serba kekurangan karena negara ini tak mampu menaikkan derajat orang tuaku. Namanya juga manusia, harus berusaha sendiri, sekali tergilas dengan ketidakmampuan finansial, di situ lah letak tantangan besar untuk memilih “maju” dengan menghalalkan segala cara atau “diam” dengan penuh keterbatasan. Bukan mengampu negara yang harus menaikkan derajat kita. Idealis, tapi itu rasional. Banyak orang mencoba untuk berada di tengah-tengah, namun akhirnya banyak juga dari orang-orang itu yang berkembang menjadi orang egois dan terkesan mencari aman, kemudian lari ke negeri orang. Semoga aku bukan yang seperti itu.
Sembari berjalan di antara keramaian orang, aku melengos langsung menuju pasar rakyat dekat dengan stasiun. Kutolehkan pandangan, sejenak melihat dagangan kue kecil dan minuman. Ah, rasanya haus dan lapar. Baru kemarin aku menahan lapar karena tak memegang selembar uangpun. Tapi, aku harus bertahan. Lalu kupalingkan ingatanku tentang waktu itu, jajan di pinggir stasiun, air mineral yang ternyata isi ulang dari air empang dan label palsu. Kue pukis, ternyata bekas adonan kemarin. Tak ayal langsung terkena tipes. Ada-ada saja, ingin murah makan di gerobak “Amigos”, agak minggir got sedikit, eh malah tipes. Alhasil masuk rumah sakit, membayar lebih dari 2 juta rupiah dalam sehari semalam. Luar biasa, di awal pengecekan pun harus sudah membayar 500 ribu. Oh, tidak. Gagal. Gagal untuk jajan di pinggir jalan. Memikirkan waktu itu aku disemprot seisi keluarga, gara-gara menghabiskan banyak uang di rumah sakit. Lebih-lebih itu uang pinjaman.
Mampir ke sebuah gerai kecil di pasar itu, yang menawarkan aneka jilbab dan pakaian wanita. Aku, yang sedang belajar usaha, ceritanya bertanya-tanya dengan asumsi memegang uang jutaan rupiah. Padahal, seratus ribu juga modal pinjam,
“Iya neng, bisa dibantu?”
“ini berapa ya, Bu? (kulihat betapa bagusnya jika jilbab itu kujual, berbahan siffon dan bermanik-manik permata), kalau itu (sebuah bandana jilbab dari bunga kain yang besar dan mewah) ?”
“Hm, itu 25 neng, sama bandana juga.”
“Ah... iya.. kalau beli kodian juga sama harganya, Bu?”
“Sama, itu sudah harga grosir neng”.
“Hm.. okelah kalau begitu. Besok saya ke sini lagi kalau jadi”, dengan basa-basi aku pergi dengan pasti. Seperti biasa, pasti sang penjual menggerutu dalam hati,” semoga pendatang berikutnya tak hanya bertanya, karena di sini bukan information centre”. Aku memang baru saja melewati gerai itu, mencoba melihat gerai yang lain dan sedikit jauh dari gerai pertama, ternyata ketika masuk, baru saja ingin bertanya, sang pramuniaga sudah memahami gerak-gerik ku. Ia lantas melengos seolah tak melihatku. Wah, salah ini. Menghilangkan rezeki. Tancap gas, akupun melangkah ke gerai sendal. Dahsyat, akhirnya dapat dagangan juga.
Beberapa sendal wanita berbahan karet. Lumayan bagus, bisa ditawar hingga menyusut 5 ribu rupiah dari harga yang ditawarkan. Lantas kuborong selusin. Akhirnya, mampir ke gerai yang lebih depan. Ah, betapa bodohnya aku. Ternyata sendal dengan bentuk dan warna serupa, memiliki harga yang sama setelah dipotong 5 ribu dari harga awal. Oh, tidak. Seharusnya aku bisa lebih jeli menawar harga. Yah, sudahlah... setiap orang punya rezeki masing-masing. Mungkin ini rezekinya penjual tadi. Tapi, aku jadi bertanya. Apakah ini karakter orang Indonesia? Mudah dibohongi dalam setiap kesempatan. Baru percaya sedikit, sudah tak heran jika bisa diperdayakan oleh orang lain.
Kembali ke petualanganku hari ini, sepatuku juga kelihatan lusuh. Harus segera diganti. Tapi, nanti saja kalau ketemu sendal jepit, alas kaki yang digunakan para penjuang jalanan. Meskipun tak bernilai tapi alas kaki ini yang selalu menjadi saksi hidup derita jalanan. Benar juga, tak selera aku melihat rentetan pajangan sepatu-sepatu sport apalagi sepatu atau sendal wanita, yang aduhai itu. Selain mahal (untuk seukuran kantongku), tak awet pula. Beberapa kali coba, cuma bertahan 3 bulan. Tak ayal harus beli baru lagi. Ah, berapa banyak uang yang dihabiskan untuk itu saja, belum untuk makan, untuk minum, untuk baju, untuk buku-buku. Ah, lagi-lagi selalu memikirkan cost dan benefit saat mau bertindak. Yah, mungkin karena aku wanita, jadi terlalu banyak memilih, cerewet, dan ribet dengan berpikir ini itu. Itu manusiawi.
Kembali aku melanjutkan perjalanan, menuju sebuah toko baju. Niatnya ingin membeli baju untuk cucu pertamaku yang baru saja lahir. Ya. Cucu. Aku hampir lupa, bahwa baru setahun yang lalu keponakanku menikah. Usianya tiga tahun di atasku. Menikah dengan seorang pria berdarah Jawa. Seingatku, di lingkup keluarga kecil ayah dan ibuku, baru kali ini menantunya Jawa. Selebihnya, Batak, Minang, Dayak, Madura, Cirebon, Melayu, Bugis, dan Sunda. Kalau dirunut, satu keluargaku seperti miniatur Indonesia. Hanya kurang ras darah tionghoa. Ah, namanya juga jodoh, tak bisa ditentukan. Yang penting, cucuku harus aku kirimi hadiah. Akhirnya jatuhlah pilihanku pada baju-baju tidur mungil untuk sang buah hati. Murah. Tapi berkualitas. Merogoh kocek, pas pula dengan harganya. Dibungkus oleh mbaknya, langsung tancap gas.
“Mba.... kembaliannya”, aku menoleh sebentar ke belakang
“Eh ... iya, makasih mba.” Ternyata masih ada ya orang jujur seperti itu di zaman ini. Ya iyalah, walaupun seribu rupiah, itu bukan hak mereka. Kalau tidak dikembalikan dagangannya juga tidak berkah. Tak semua orang Indonesia itu bobrok. Hanya orang-orang yang berpikiran sempit yang menyangka manusia Indonesia itu koruptor semua. Berpikir di luar kotak korek api, jarang sekali ada yang seperti itu.
Sesampainya di gerbang pasar, saatnya mencari angkutan, seharusnya jalan beberapa meter lagi untuk mendapat angkutan kota. Agak sesak kendaraan sore itu. Terminal Depok, sekali melintas tercium bau air seni dan sampah di antara seluk-beluk bis yang berjejer. Ah, sangat memuakkan. Tapi, aku tahu ini adalah tanda aku benar dengan memakai sendal jepit. Tak takut menginjak kotoran apapun, termasuk air seni dan sampah.
Bersama sendal jepit, aku melangkah dengan mantap. Menuju jembatan penyeberangan, tepat depan Mall ternama di negeri ini. Ah, sesekali mampir ke dalam dan melihat-lihat. Lantas aku menaiki jembatan penyebrangan. Tidak. Pemandangan yang sungguh memuaskan aku, jajaran wanita tua dan anak-anak pengemis yang mengharap uluran logam. Hufh, sekejap aku memandang bahwa mereka bukanlah cerita di siang hari. Tapi, lebih dari itu di antara kerumunan lalat yang mengerubungi, hanya ada sedikit harap bahwa hari ini mereka akan makan sesuap nasi. Hm, tapi tak semua begitu, sempat sesekali aku melihat ada di antara mereka yang menyembunyikan uang di antara kurungan sarung. Terlihat sebuah dompet tebal bermerek. Hanya bisa tersenyum, dengan malu mereka melihatku dan seolah tak ada apa-apa. Ah, aku masih saja bangga dengan negara ini.
Ternyata matahari sudah sangat tak bersahabat. Ia pulang dan tinggal gelap, aku mengurungkan niat masuk ke dalam Mall itu. Secepat mungkin menarik badan dan kembali ke trotoar untuk menaiki KWK 19 merah atau M04 cokelat.
“yo ayo yo.... rambutan.... rambutan.... rambutan....”,
“Minggu... minggu... minggu....”,
“PAL.... PAL... PAL.....”.
suara klakson, kompetisi teriakan-teriakan, dan dengan lantang sang kenek menyanyikan lagu gembira itu setiap melintasi orang-orang. Hm, rasanya sering sekali aku pusing karena ini. Tapi, namanya juga nyari penumpang. Akhirnya aku harus mengejar sang angkutan kota. Betapa tidak, ada tulisan keras “DILARANG NGETEM DI SINI”. Ahaha, sang supir segera bilang.. “hayo buruan mbak’e... naik saja”, sambil melajukan putaran roda angkutan itu. Tak ada yang istimewa saat perjalanan pulang. Hanya sebuah kendaraan roda dua yang hampir saja menggilas kakiku. Saat menyebrang jalan, langkah tertutu angkutan kota yang ngetem tepat di depan hidung. Agak berlebihan, tapi memang benar, lantas saja tak melihat ada sepeda motor di belakangnya, baru satu kaki melangkah... Eitss... hampir saja. Dengan sigap aku mundur selangkah baru kemudian setelah sepi, aku menyebrang. Hm, hari ini, sungguh luar biasa. Sesampainya di kosan, kembali menarik kaki dan menanggalkan sendal jepit ini, tepat di depan pintu. Lantas kusandingkan ia dengan sepatu-sepatu cantik yang lain. Aku hanya tersenyum. Perjalananku dengan sendal jepit, ah. Tampaknya dia sudah kusam, harus kucuci lagi besok. Keesokan harinya, aku justru kaget. Sendalku tersayang, kini malang... tinggal bayangan. Siapapun yang mengambilnya. Aku yakin entah itu orang iseng atau apalah... dia tetap saudaraku. Tapi, kenapa harus sendal jepit?