Monday, January 2, 2012

Perempuan itu


Dan kini,
Perempuan itu seolah menjadi benih dalam dekapan mimpi
Bersorak sorai dengan penuh riang
Meski dalam sakit
Dan tangis
Dan ngeri
Dan hampir pupus
Ia tak membuat dunia bisa nyaman
Ia hanya seonggok daging yang mungkin akan menjadi santapan harimau-harimau sunyi

Ah, aku tak bisa melihatnya seperti ini
Susah sungguh,
Susah benar akan melihat segala mimpi dari cermin yang ada
Tak cantik memang,
Tapi dia memiliki dunia yang aku tak punya
Wajah-wajah sepi yang memakan kekecewaan

Akan ada sebuh harapan baru menurutku
Jika memang sebuah harga perjuangannya dapat terbayar
Maka harga sebuah mimpi adalah seharga nyawa
Maka harga sebuah pengorbanan adalah seharga jiwa
Maka harga sebuah keikhlasan adalah seharga raga

Ya,
Dia memang wanita yang aku temukan dalam senapang mimpi
Wanita tegar dengan sejuta impian


Refleksi Diri Seorang Introvert

Setelah 21 tahun.... ingat memori ini, yang terlepas dari rangkaian kata-kata rekan seperjuangan. Berbagai macam atribut luar biasa yang mereka berikan, justru itulah yang menjadi kekuranganku. Aku sadar sepenuhnya justru kelebihan yang dimiliki ini, adalah bumerang untuk diriku sendiri. Kadang aku iri, dengan segala kekurangan yang dimiliki orang lain. Justru karena kekurangan itu, mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik secara berkala, naik satu demi satu tingkat. Katanya, aku tipikal perempuan yang memiliki semangat dan idealisme tinggi. Tapi, justru itulah yang menghalangi aku untuk bekerjasama dengan orang lain, yang memiliki standar di bawahku. Aku juga dikatakan memiliki target terarah. Tapi, justru itu yang membuat orang-orang bosan dengan pola hidupku yang monoton, semua serba direncanakan. Memang, sering juga aku terlihat sangat antusias dan haus pengalaman. Bahkan lupa dengan kewajiban yang harus aku tunaikan terhadap badanku sendiri.
Pembangun ide, tipikal lain dari wajah perempuanku. Bukan hanya membangun, kadang justru aku mendikte mereka dengan ide-ide gila, yang bahkan tak kusadari bahwa telah banyak aku membangun opini negatif dari kolega karena ide itu, sehingga namaku tertanam sebagai perempuan diktator. Meskipun begitu, memang benar aku selalu bersabar. Menjadi penyabar akhirnya membuat aku tenang, namun cukuplah kesabaran itu di ambang batas, aku justru dimanfaatkan orang lain untuk mereka menekan diriku sesuka hati. Sampai akhirnya, pada titik ini, aku dikenal sebagai tipe pengayom dengan caraku sendiri, sang koleris yang mencoba plegmatis. Mungkin, karena aku baik hati dan tenang, tapi aku tak cukup smart seperti apa yang mereka bilang. Aku cuma selalu ingin aktif dalam mengembangkan potensiku sebagai akademisi maupun calon scientist. Ketangguhan dan kecerdasan emosional yang semakin kupertahankan, justru mampu mengubhku menjadi lebih baik. Semoga orang-orang semakin memaknai usahaku dengan melihat bagian baik dari sisiku, bukan melihat bagian baikku sebagai kekurangan seperti yang dikatakan seorang teman.
Aku memang kelihatan lembut, kalem, cool, dan istiqomah. Tapi, semua orang harus tau, bahwa aku tak lebih dari seonggok daging yang kritis akan kehidupan. Aku sering membeturkan kepalaku di tembok-tembok perjalananku yang berliku. Aku sering memarahi diriku sendiri akibat keputusanku sendiri. Memecahkan piring dan gleas hati yang terlihat tenang. Memang air yang beriak tandanya tak dalam, begitupun sebaliknya. Tak selamanya laut yang tenang itu tak berbahaya. Justru aku, aku, aku, aku, mimpiku... duniaku... amat berbeda dengan apa yang aku tampilkan. Dan baru aku sadari bahwa inilah kekuatan dan kelebihan terbesarku. SANG INTROVERT: PEREMPUAN DENGAN SEJUTA RAHASIA. Belum ada satupun orang yang bisa membaca binar dan sayu bola mataku, bahkan orang tuaku sekalipun. Semua adalah cerita di balik tirai yang aku jahit sendiri. Jikapun ada orang yang bisa memenuhi itu, maka dialah orang yang Allah SWT titipkan untuk menjagaku. Karena sejatinya, cuma Dia yang bisa memahamiku apa adanya.

#kutitipkan untuk semua orang yang ingin mengenal aku apa adanya ^^..


Kalau tadi, aku berbicara dengan segala keunggulan yang membuat aku minus di mata orang. Saat ini, aku justru bersyukur dengan kekurangan yang aku punya. Aku sulit ditebak, tertutup, penyendiri, pendiam, dan susah menerima pendapat apalagi percaya sama orang lain. Secara genetik, mungkin inilah yang telah diwariskan dari leluhurku. Tapi, secara perilaku, inilah yang aku ikuti dari lingkunganku. Pasalnya, aku selalu jenuh mendengar orang-orang berkeluh kesah, marah-marah, apalagi menangis tak jelas atau merayaukan apa yang sedang dihadapi mereka. Justru dengan diam dan menyendiri aku merasa lebih tenang.
Aku tak akan merusak hari indah orang-orang yang ada di sekitarku. Bisa dibilang, diam itu memang emas. Emas yang selama ini aku jaga keutuhan dan kemurniannya. Meskipun begitu, aku sadar banyak orang yang menyalahartikan diamku. Mungkin tak banyak orang yang aku temui, paham kondisiku di kala diam dan menyepi menjadi pilihan. Dikiranya, aku tak senang dengan mreka, aku tak senang berjamaah dalam menyelesaikan masalah, aku tak suka ceria bersama-sama dan aku tak bisa hidup dalam ramai. Yah, sejatinya aku tak begitu. Aku cukup diplomatis dan menyenangkan di suatu saat. Bahkan, aku bisa menjadi seperti anak kecil yang suka berkhayal menaiki kapal selam atau terbang di langit memakai sayap dan tongkat ajaib. Ya begitulah, tapi hanya di kala waktunya tepat. Menjadi dewasa itu indah dengan cara kita masing-masing.
Dewasa adalah bisa bersikap di waktu dan saat yang tepat. Dewasaku adalah dengan diam dan menutupi segala gundah yang ada. Agar tak kelihatan, aku harus menutupnya rapat-rapat. Serapat mungkin, untuk tetap menjaga izzahku juga. Memang, tak banyak yang paham dengan maksud dan caraku. Makanya, susah untuk dekat denganku kalau baru kenal sehari. Kalau orang bilang "kamu adalah apa yang kamu pikirkan", justru aku berpikir "aku adalah apa yang orang pikirkan". Ada-ada saja, kekuranganku ini justru menjadikan aku lebih kuat dan tegar untuk memaknai keindahan dan keberagaman di sekitar.
Aku harus elalu ekstra hati-hati dengan segala sikapku, enggan untuk aku menyakiti hati orang lain. Karena aku sendiri sering merasa disakiti oleh orang lain. Hanya dengan diam, menyendiri, kemudian tersenyum di balik genangan air tempaku berkaca. Sudah pada level berapa aku berdiri sebagai seorang pribadi yang unggul secara emosional? itulah aku, terlalu percaya dengan apa yang ada di hatiku. Aku selalu benar dengan cara dan parameterku sendiri. Aku lebih suka bercerita tentang diriku, agar orang lain tak merasa aku sakiti. Karena, jika aku lebih banyak membeicarakan orang lain, maka aku akan berpeluang besar menyaikiti hati mereka. Hanya dengan sebuah "kata" aku bisa dihakimi seperti itu. Aku lebih percaya dengan diriku sendiri, bahasa kalbuku, hati nuraniku, dan itu yang membuat aku berbeda dengan orang kebanyakan. Kekuranganku justru membuat aku bisa sembuh dari penyakit ketergantungan teman atau orang lain, bahkan materi, yang selama ini digandrungi oleh dewasa muda seusiaku.
Karena aku dan kamu berbeda.

#Ceritaku, sekali lagi hanya untuk orang-orang yang ingin mengetahui tentangku, apa adanya. Karena itulah aku: INTROVERT YANG MENYENANGKAN



Ape Nak Jadi....


Sebuah celoteh dari Budak Melayu
Dilhami oleh Gurindam Due Belas Gubahan Raje Ali Haji

Sajak si Atan:

Mak...
Semalam Atan tengok Pak Dolah
Baru pagi pergi sekejap...
Balik waktu Dhuha pegang duit barang serompong
Duduk sorang-sorang dekat beranda
Ketawe senang kerane menang loterai
Hai... anak istri makan duit loterai... Ape Nak Jadi

Sajak Emak:

Atan...
Kau tau yang mane pusake
Kau tau juga yang mane derita
Waktu Dhuha kerje yang berfaedah
Jadikan Sholat sebagai semangat
Supaye hidup tetap selamat

Sajak Atan:

Mak...
Semalamnye lagi, Atan jumpe Kak Fatimah
Gaye die mak... Kece... Kacemate itam,
Bawah rok mini, atas pakai U Can See
Atan tanye... “ni jam mengaji Kak Timah pakai bikini?”
Saje die jawab... “Hari gini? Timmy tak mengajilah Atan, Timmy ade janji di sane”
Hai... Name Timah dah jadi Timmy, Gaye seksi macam Britney... Ape Nak Jadi

Sajak Emak:

Atan... Atan...
Kau tu anak berbudaye
Pusake bangse bukan meniru
Jadilah guru yang digugu dan ditiru
Biar susah sungguh... takkan Melayu hilang di bumi

Sajak Atan:

Mak... Mak...
Semalam dari yang semalamnye lagi, Atan tengok Tivi
Ade tikus pakai dasi, Atan pon tak faham
Duduk lenggang pegang mikrofon,
Gaye boleh macam orang berbudi,
Rase-rasenye merompak harte negeri, tapi
Lime belas kali keluar penjare dalam sebulan, Cume nak jalan-jalan
Hai... sejak bile penjare macam istane... Ape Nak Jadi

Sajak Emak:

Atan.. oi.. Atan...
Kalau perut terlalu penuh... keluar faal yang tak senonoh
Kalau mulut terlalu lebih... keluar niat yang tak berfaedah
Kalau mate tak terpelihare... banyaklah cite-cite
Kalau pandai berkate-kate... di situlah jalan masuk duste
Pelihare mulut.... pelihare kuping... pelihare hati... pelihare pikir...
di situlah hidup selalu ramping

Sajak Atan:

Mak... Mak... Mak...
Semalam seminggu yang lalu, Atan dengar Kabar
Anak Pak Ngah, si Bidin berhenti sekolah...
Katenye Negare menggratiskan... tapi same aje,
Buku bayar, baju bayar, gedung bayar, sampai rapor pon bayar
Tak sanggop Pak Ngah... adelah si Bidin nak kerje,
Hai... kesian pendidikan... Ape Nak Jadi

Sajak Emak:

Atan... Anak Mak... Atan...
Usahe barang usahe, lebih baik
Ape kate dunie, jangan menyerah dengan takdir
Usaha tetap berilmu dan beriman, tande orang yang akan masuk surge
Boleh miskin harte, tapi tak boleh miskin ilmu dan pekerti

Sajak Atan:

Oi... Mak...
Hari ini Atan pon tak tau...
Ape Nak Jadi... dari dulu sampai sekarang
Susah nak cari kerje... ijazah SMP tak laku, harus cari penglaris dulu
Usahe tak bermodal, berilmu tak terpakai,
Jadilah Atan macam ni,
Sehari-hari melaot, tapi ikan pon tak pasti
Harge solar mahal, kapal pakai air pon tak bisa jalan
Hai... maksud hati tak mau mengeluh...
Tapi bumi dah tak senonoh... Ape Nak jadi...

Sajak Emak:

Tu lah engkau Atan...
Mak suruh sekolah... die pergi cari ikan...
Sejak Ayah kau tiade, memang kite yang tanggung semue
Tapi jangan patah semangat Atan, Mak doa’kan... kelak kaulah cahaye Negeri

Kenapa Sendal Jepit?


Kenapa Sendal Jepit?
Oleh : Mulyani Hassan

Di sela-sela menunggu kereta ekonomi di peron 2 menuju arah Jakarta Kota, di bangku panjang paling pojok stasiun Depok Lama, di depan toko minuman, pukul 16.34 WIB, dosenku membuka percakapan,
“Kamu berapa saudara kandung?”,
“Saya delapan bersaudara, Bu. Anak bungsu”, memang begitu adanya, di Indonesia, banyak anak banyak rezeki katanya,
“Semua sudah kerja dan berkeluarga dong?”, ia menarik perhatianku,
“Ah iya, itu tinggal satu lagi kakak perempuan saya, 3 tahun lebih tua dari saya. Nggak lama lagi juga nikah Bu”, setelah itu sepertinya aku,
“Wah, kalau begitu enak dong, banyak yang sayang. Banyak uang jajan”
“Ah, nggak juga, Bu. Kehidupan mereka justru pas-pasan. Untuk sendiri aja nggak cukup, apalagi uang jajan untuk saya. Kehidupan saya justru berbalik dengan apa yang orang pikirkan. Kuliah modal nekad, bekal beasiswa, dan berusaha sendiri untuk kerja. Tak pernah sekalipun berharap untuk dimanja atau disayang layaknya bungsu yang lain”, tapi tetap harus selalu bersyukur, batinku mengatakan itu …..yang paling penting dalam hidup adalah…. sesulit apapun jalan kemandirian itu datang harus dikejar terus tanpa henti.
“Yah... berjuanglah. Saya ternyata lebih beruntung, lahir dari keluarga berada, yang dulunya juga susah. Tapi, saya tak pernah diajarkan hidup mewah, selalu sederhana. Dulu sekali, sekolah masih pakai sendal jepit. Awalnya saya disekolahkan di Sekolah Negeri, tapi baru di kelas 2, atap gedung selalu bocor, buku basah kalau hujan. Akhirnya, saya dipindahkan ke sekolah swasta. Yah... baguslah pelajarannya pun setingkat lebih tinggi daripada sekolah negeri biasa. Sampai akhirnya bisa tembus sekolah ke Jepang. Kehidupan berbeda 180 derajat. Tapi justru itu, hidup di Indonesia dan di Jepang bisa saya bandingkan, yang buat saya belajar tentang kehidupan.”
Dan kereta pun datang...tak sempat berbicara banyak, “hati-hati ya, Bu”, saya masih mau belanja buat jualan”,dosenku menjawab “Ah, kamu jualan? Ya sudah .... Makasih ya, udah temani saya bertemu mereka”, kemudian sosok tubuh yang mungil dan baik itu pun melesat di antara kerumunan orang yang bergelantungan di pintu kereta. Lagi-lagi, aku kagum dan tersenyum melihatnya, angkutan umum yang sungguh luar biasa menjadi favorit, seharga 1500 rupiah, rute dalam kota, tak berasap, dan mampu menampung jutaan ummat. Sampai-sampai berlebih di atas gerbongnya.
Percakapan itu yang selalu aku pikirkan hingga sekarang. Di mana-mana, orang selalu merendahkan sendal jepit, merendahkan sekolah negeri, apalagi kehidupan orang-orang susah di negeri ini.  Padahal katanya, sendal jepit dulu juga asalnya dari Jepang. Soalnya, di tanah kelahiranku disebutnya sendal jepang. Halah, tapi, dosenku itu membuka mata bahwa memang kita bisa banyak belajar dari negara ini. Aku cuma bisa tersenyum. Dosenku yang satu itu, memang luar biasa, kadang ia terlihat begitu arogan dan perfeksionis tentang dirinya yang dididik secara disiplin oleh keluarganya dan saat ia menimba ilmu di Jepang. Banyak hal yang ia beritahukan tentang kerasnya ia sebagai seorang wanita yang sempurna. Tapi, banyak hal pula yang ia sesalkan dari sisi kehidupan kerasnya itu. Ternyata ia selalu bertarung dengan kencangnya jalan kereta ekonomi yang selalu penuh sesak, yang ia rasakan juga di Jepang. Bedanya, di sana kereta penuh dengan keteraturan dan kenyamanan. Bahkan presiden pun mau bertandang ke kereta dan berbicara dengan rakyat jelata. Membayangkan presiden kita, kapan ya masuk kereta?
Kenapa harus jauh-jauh berpikir tentang presiden. Aku harus berpikir untuk diriku sendiri. Sekarang bagaimana aku bisa berjuang untuk bertahan di kota ini. Yah, contohnya aku. Aku juga salah satu anak bungsu yang belajar banyak dari kondisi hidupku yang serba kekurangan karena negara ini tak mampu menaikkan derajat orang tuaku. Namanya juga manusia, harus berusaha sendiri, sekali tergilas dengan ketidakmampuan finansial, di situ lah letak tantangan besar untuk memilih “maju” dengan menghalalkan segala cara atau “diam” dengan penuh keterbatasan. Bukan mengampu negara yang harus menaikkan derajat kita. Idealis, tapi itu rasional. Banyak orang mencoba untuk berada di tengah-tengah, namun akhirnya banyak juga dari orang-orang itu yang berkembang menjadi orang egois dan terkesan mencari aman, kemudian lari ke negeri orang. Semoga aku bukan yang seperti itu.
Sembari berjalan di antara keramaian orang, aku melengos langsung menuju pasar rakyat dekat dengan stasiun. Kutolehkan pandangan, sejenak melihat dagangan kue kecil dan minuman. Ah, rasanya haus dan lapar. Baru kemarin aku menahan lapar karena tak memegang selembar uangpun. Tapi, aku harus bertahan. Lalu kupalingkan ingatanku tentang waktu itu, jajan di pinggir stasiun, air mineral yang ternyata isi ulang dari air empang dan label palsu. Kue pukis, ternyata bekas adonan kemarin. Tak ayal langsung terkena tipes. Ada-ada saja, ingin murah makan di gerobak “Amigos”, agak minggir got sedikit, eh malah tipes. Alhasil masuk rumah sakit, membayar lebih dari 2 juta rupiah dalam sehari semalam. Luar biasa, di awal pengecekan pun harus sudah membayar 500 ribu. Oh, tidak. Gagal. Gagal untuk jajan di pinggir jalan. Memikirkan waktu itu aku disemprot seisi keluarga, gara-gara menghabiskan banyak uang di rumah sakit. Lebih-lebih itu uang pinjaman.
Mampir ke sebuah gerai kecil di pasar itu, yang menawarkan aneka jilbab dan pakaian wanita. Aku, yang sedang belajar usaha, ceritanya bertanya-tanya dengan asumsi memegang uang jutaan rupiah. Padahal, seratus ribu juga modal pinjam,
“Iya neng, bisa dibantu?”
“ini berapa ya, Bu? (kulihat betapa bagusnya jika jilbab itu kujual, berbahan siffon dan bermanik-manik permata), kalau itu (sebuah bandana jilbab dari bunga kain yang besar dan mewah) ?”
“Hm, itu 25 neng, sama bandana juga.”
“Ah... iya.. kalau beli kodian juga sama harganya, Bu?”
“Sama, itu sudah harga grosir neng”.
“Hm.. okelah kalau begitu. Besok saya ke sini lagi kalau jadi”, dengan basa-basi aku pergi dengan pasti. Seperti biasa, pasti sang penjual menggerutu dalam hati,” semoga pendatang berikutnya tak hanya bertanya, karena di sini bukan information centre”. Aku memang baru saja melewati gerai itu, mencoba melihat gerai yang lain dan sedikit jauh dari gerai pertama, ternyata ketika masuk, baru saja ingin bertanya, sang pramuniaga sudah memahami gerak-gerik ku. Ia lantas melengos seolah tak melihatku. Wah, salah ini. Menghilangkan rezeki. Tancap gas, akupun melangkah ke gerai sendal. Dahsyat, akhirnya dapat dagangan juga.
Beberapa sendal wanita berbahan karet. Lumayan bagus, bisa ditawar hingga menyusut 5 ribu rupiah dari harga yang ditawarkan. Lantas kuborong selusin. Akhirnya, mampir ke gerai yang lebih depan. Ah, betapa bodohnya aku. Ternyata sendal dengan bentuk dan warna serupa, memiliki harga yang sama setelah dipotong 5 ribu dari harga awal. Oh, tidak. Seharusnya aku bisa lebih jeli menawar harga. Yah, sudahlah... setiap orang punya rezeki masing-masing. Mungkin ini rezekinya penjual tadi. Tapi, aku jadi bertanya. Apakah ini karakter orang Indonesia? Mudah dibohongi dalam setiap kesempatan. Baru percaya sedikit, sudah tak heran jika bisa diperdayakan oleh orang lain.
Kembali ke petualanganku hari ini, sepatuku juga kelihatan lusuh. Harus segera diganti. Tapi, nanti saja kalau ketemu sendal jepit, alas kaki yang digunakan para penjuang jalanan. Meskipun tak bernilai tapi alas kaki ini yang selalu menjadi saksi hidup derita jalanan. Benar juga, tak selera aku melihat rentetan pajangan sepatu-sepatu sport apalagi sepatu atau sendal wanita, yang aduhai itu. Selain mahal (untuk seukuran kantongku), tak awet pula. Beberapa kali coba, cuma bertahan 3 bulan. Tak ayal harus beli baru lagi. Ah, berapa banyak uang yang dihabiskan untuk itu saja, belum untuk makan, untuk minum, untuk baju, untuk buku-buku. Ah, lagi-lagi selalu memikirkan cost dan benefit saat mau bertindak. Yah, mungkin karena aku wanita, jadi terlalu banyak memilih, cerewet, dan ribet dengan berpikir ini itu. Itu manusiawi.
Kembali aku melanjutkan perjalanan, menuju sebuah toko baju. Niatnya ingin membeli baju untuk cucu pertamaku yang baru saja lahir. Ya. Cucu. Aku hampir lupa, bahwa baru setahun yang lalu keponakanku menikah. Usianya tiga tahun di atasku. Menikah dengan seorang pria berdarah Jawa. Seingatku, di lingkup keluarga kecil ayah dan ibuku, baru kali ini menantunya Jawa. Selebihnya, Batak, Minang, Dayak, Madura, Cirebon, Melayu, Bugis, dan Sunda. Kalau dirunut, satu keluargaku seperti miniatur Indonesia. Hanya kurang ras darah tionghoa. Ah, namanya juga jodoh, tak bisa ditentukan. Yang penting, cucuku harus aku kirimi hadiah. Akhirnya jatuhlah pilihanku pada baju-baju tidur mungil untuk sang buah hati. Murah. Tapi berkualitas. Merogoh kocek, pas pula dengan harganya. Dibungkus oleh mbaknya, langsung tancap gas.
“Mba.... kembaliannya”, aku menoleh sebentar ke belakang
“Eh ... iya, makasih mba.” Ternyata masih ada ya orang jujur seperti itu di zaman ini. Ya iyalah, walaupun seribu rupiah, itu bukan hak mereka. Kalau tidak dikembalikan dagangannya juga tidak berkah. Tak semua orang Indonesia itu bobrok. Hanya orang-orang yang berpikiran sempit yang menyangka manusia Indonesia itu koruptor semua. Berpikir di luar kotak korek api, jarang sekali ada yang seperti itu.
Sesampainya di gerbang pasar, saatnya mencari angkutan, seharusnya jalan beberapa meter lagi untuk mendapat angkutan kota. Agak sesak kendaraan sore itu. Terminal Depok, sekali melintas tercium bau air seni dan sampah di antara seluk-beluk bis yang berjejer. Ah, sangat memuakkan. Tapi, aku tahu ini adalah tanda aku benar dengan memakai sendal jepit. Tak takut menginjak kotoran apapun, termasuk air seni dan sampah.
Bersama sendal jepit, aku melangkah dengan mantap. Menuju jembatan penyeberangan, tepat depan Mall ternama di negeri ini. Ah, sesekali mampir ke dalam dan melihat-lihat. Lantas aku menaiki jembatan penyebrangan. Tidak. Pemandangan yang sungguh memuaskan aku, jajaran wanita tua dan anak-anak pengemis yang mengharap uluran logam. Hufh, sekejap aku memandang bahwa mereka bukanlah cerita di siang hari. Tapi, lebih dari itu di antara kerumunan lalat yang mengerubungi, hanya ada sedikit harap bahwa hari ini mereka akan makan sesuap nasi. Hm, tapi tak semua begitu, sempat sesekali aku melihat ada di antara mereka yang menyembunyikan uang di antara kurungan sarung. Terlihat sebuah dompet tebal bermerek. Hanya bisa tersenyum, dengan malu mereka melihatku dan seolah tak ada apa-apa. Ah, aku masih saja bangga dengan negara ini.
Ternyata matahari sudah sangat tak bersahabat. Ia pulang dan tinggal gelap, aku mengurungkan niat masuk ke dalam Mall itu. Secepat mungkin menarik badan dan kembali ke trotoar untuk menaiki KWK 19 merah atau M04 cokelat.
“yo ayo yo.... rambutan.... rambutan.... rambutan....”,
“Minggu... minggu... minggu....”,
“PAL.... PAL... PAL.....”.
suara klakson, kompetisi teriakan-teriakan, dan dengan lantang sang kenek menyanyikan lagu gembira itu setiap melintasi orang-orang. Hm, rasanya sering sekali aku pusing karena ini. Tapi, namanya juga nyari penumpang. Akhirnya aku harus mengejar sang angkutan kota. Betapa tidak, ada tulisan keras “DILARANG NGETEM DI SINI”. Ahaha, sang supir segera bilang.. “hayo buruan mbak’e... naik saja”, sambil melajukan putaran roda angkutan itu. Tak ada yang istimewa saat perjalanan pulang. Hanya sebuah kendaraan roda dua yang hampir saja menggilas kakiku. Saat menyebrang jalan, langkah tertutu angkutan kota yang ngetem tepat di depan hidung. Agak berlebihan, tapi memang benar, lantas saja tak melihat ada sepeda motor di belakangnya, baru satu kaki melangkah... Eitss... hampir saja. Dengan sigap aku mundur selangkah baru kemudian setelah sepi, aku menyebrang. Hm, hari ini, sungguh luar biasa. Sesampainya di kosan, kembali menarik kaki dan menanggalkan sendal jepit ini, tepat di depan pintu. Lantas kusandingkan ia dengan sepatu-sepatu cantik yang lain. Aku hanya tersenyum. Perjalananku dengan sendal jepit, ah. Tampaknya dia sudah kusam, harus kucuci lagi besok. Keesokan harinya, aku justru kaget. Sendalku tersayang, kini malang... tinggal bayangan. Siapapun yang mengambilnya. Aku yakin entah itu orang iseng atau apalah... dia tetap saudaraku. Tapi, kenapa harus sendal jepit?



Wednesday, August 24, 2011

Aksaramu


Aku merangkai aksara, kata-demi kata kehidupan. Merenungkan tentang kau. Kau wanita yang tak pernah takut dengan muntahan kata tragis bahkan dentuman nuklir sekalipun. Berjuta angkatan bersenjata mencuatkan peluru dan basoka, tidak membuat kau mengingat orang-orang yang jauh dan lupa dengan jasamu. Kau tak pernah gentar menghadapi debu dan perasaan yang mati sekalipun. Kadang emosi selalu membakarmu, tapi kau masih mampu meredam dengan kedinginan hati dan jiwa mengalahmu. Kau wanita yang tegar dengan sejuta impian. Sisi keibuanmu kadang meluluhlantakkan negeri yang sudah gersang. Tapi, kau juga kadang meledakkan mimpi berjuta orang karena kerasnya hatimu.
Kau terlihat menyembunyikan banyak rahasia. Hingga kini, dalam sakitmu, hanya tersisa sebuah derita kecil yang terlihat dari fisik. Mungkin jiwamu menyimpan banyak hal, yang aku tau, kau takkan mau menceritakan kelemahan hatimu kepada orang lain. Tapi, aku yakin kau punya niat baik untuk itu, betapa sempurna hatimu. Kau hanya ingin belajar menanggung akibat sendiri dari keputusanmu. Karena pada akhirnya segala bentuk dosa dan pemikiran adalah milikmu sendiri, dan kau tanggungjawabkan itu di hadapan sang Khalik. Entah sampai kapan, tapi aku yakin kau akan selalu mengenang jasa dan kebaikan orang lain dalam air sungai pengalaman ini. Kau tak akan pernah menghilangkan cinta dan rasa ceria orang lain dalam banyak hal. Sayangku, hanya berbeda dalam pemikiran, aku ingin berbagai cerita kau sampaikan kepada mereka yang melupakanmu. Sayangku, selamat beristirahat. Aku tahu gubug ini tak cukup membuatmu nyaman. Aku di sini, setiap detik menuliskan aksara namamu pada puisi, pada cerita pendek, bahkan pada novel yang tak kunjung rampung dan tak mampu membendung matamu.

” Kini aku merenung seperti bukit, menghayati riak bagai laut, menyapa angin seperti pepohonan, menunggu detik-detik senja dengan segala kepenatan matahari, lalu tenggelam di saat malam”




Aksaramu, Mulyani Hassan
Di laboratorium taksonomi hewan
Pkl. 10.16 WIB, 25 Maret 2011

Idealisme saya, idealisme aktivis low profile


Semua manusia adalah intelektual, namun tidak semua manusia menjalankan fungsi intelektualnya dalam masyarakat”, Antonio Gramsci (1891-1937)

Gerakan reformasi mahasiswa yang memelopori era orde baru, yang dulu mewujudkan citra pahlawan bagi mahasiswa, kini terungkap sebagai sebuah anarkisme (meskipun hanya karena ulah beberapa oknum mahasiswa).   Reputasi kepahlawanan berubah signifikan bagi pejuang pergerakan mahasiswa, yang kini dikatakan hampir mati suri.  Decak kekaguman mulai luntur, ketika mahasiswa berpekik kemerdekaan, sementara pengguna jalan memekikkan “mahasiswa pembuat macet jalanan”.  Alarm inilah yang harus diwaspadai oleh mahasiswa masa kini.  Agaknya, diperlukan suatu upaya lebih untuk membangkitkan kembali euphoria aksi cinta bangsa dengan cara yang lebih sederhana, rapi, dan elegan.
Ya, itu yang saya maksud.  Sebuah aksi yang justru harus memberikan harga lebih tinggi untuk Indonesia, di mata dunia.  Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menjadi manusia berperestasi dan unggul untuk negeri ini.  Kata prestasi, tak selalu identik dengan adanya bukti piagam penghargaan.  Akan tetapi, prestasi yang saya maksudkan adalah apabila seseorang mampu memberikan “sesuatu”, membawa perubahan yang lebih signifikan untuk orang lain dan dirinya sendiri.  Hal tersebut dapat diwujudkan dengan menjadi aktivis yang low profile.  Itulah saya, dengan penuh kepercayaan diri, menawarkan sebuah gelar baru “aktivis low profile”.
Satu kenyataan bahwa banyak aktivis yang mengaku dirinya memiliki idealisme.  Hal tersebut belum bisa terbukti, apabila ia belum bisa menunjukkan pengabdiannya kepada masyarakat dan Negara. Banyak aktivis mahasiswa yang berbenturan dengan masalah akademik dan prestasi (misalnya, DO).  Maka, bagaimana idealisme mahasiswa-nya tidak dapat terbantahkan? Hanya sebuah omong kosong dengan teriakan idealisme di jalanan, apabila tidak ada kekuatan untuk para aktivis mempertahankan keseimbangan kehidupan. Tantangan inilah yang harus saya jawab.  Dengan memanfaatkan semua potensi menyongsong prestasi gemilang untuk mengabdi kepada bangsa dan Negara.
Alangkah baik, apabila saya menjadi macan di segala bidang. Tak hanya menjadi orator, legislator, ataupun eksekutor, tetapi juga menjadi akademisi yang memberikan pengetahuan dan menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri sendiri dan orang banyak.  Saya memang aktif dalam lembaga kemahasiswaan dan ekstrakurikuler, baik di dalam maupun luar kampus.  Saya juga aktif sebagai pejuang lingkungan “lepas”.  Akan tetapi, saya juga belum pantas mendapatkan gelar “aktivis” karena saya belum bisa memberikan arti lebih untuk almamater dan bangsa.  Gelar tersebut sama tarafnya dengan gelar kebangsawanan, dan belum bisa saya pakai untuk seragam ini.
Akan tetapi, justru gelar yang saya kejar menjadi suatu kebanggaan ketika saya bisa mengharumkan nama orang tua dan bangsa.  Meskipun lahir dari rahim seorang ibu yang hanya ibu rumah tangga dan ayah seorang buruh, tapi saya yakin bisa membangun bangsa ini. Berasal dari sebuah gubuk  pinggiran kota kecil di tanah melayu, Bintan, Kepulauan Riau, saya menginjakkan kaki di Jakarta, tepat 15 Mei 2008, dengan bekal potensi berprestasi dan tak bermodal materi.  Saya terus melangkah mewujudkan mimpi sebagai seorang pemimpin dunia.  Seorang saintis yang menghargai perubahan sumber daya lingkungan sebagai suatu bencana yang akan memporak-porandakan dunia.  Seorang saintis yang dapat menghargai alam untuk dijaga demi generasi masa depan, agar masih terlihat ketersediaan air bersih, pangan, pepohonan, dan keindahan.  Saya yang kini, belajar penuh dari ambisi, kegagalan, kesedihan, dan kesendirian untuk mendapatkan gelar S.Si (sarjana sains), dengan penuh keterbatasan materi.  Tantangan untuk sukses dengan segala keterbatasan adalah takdir, takdir yang harus diubah menjadi secarik kertas yang penuh goresan kesuksesan. Karena saya yakin, status sosial, maupun ketidakmampuan finansial hanya sebuah aral kecil yang mampu saya patahkan dengan semangat dan tekad.  Belajar keras dengan memanfaatkan potensi diri, mengejar ketersediaan beasiswa, memiliki jaringan luas dengan berbagai kepanitiaan dan reputasi, cukup bisa diandalkan dan membuat diri ini dikenal oleh banyak orang. Semua harus saya lakukan, menghilangkan semua keterbatasan dan berucap satu kalimat, “Tidak ada kata menyerah dan pasrah dengan takdir!”
Hingga saat itu tiba, sebuah target kelulusan di 2011, untuk lulus tiga setengah tahun, akan saya gulirkan semangat ini hingga ke negeri Sakura untuk menuntut ilmu. Kelak, akan saya bangun sebuah Lembaga Swadaya Saintis, laboratorium Alam dan Pusat Konservasi yang dapat menyumbang saintis berkualitas internasional untuk memberikan pelayanan dan ilmu bermanfaat agar Negara menjadi lebih baik, sehingga kesejahteraan, kejujuran, kedamaian, dan kebaikan tumbuh dengan subur di Negara ini.  Agaknya, terlalu berlebih dengan semua impian itu, akan tetapi, saya yakin, KETIKA SAINTIS JADI PEMIMPIN, Indonesia akan menjadi lebih baik.  Semoga… aktivis low profile ini dapat memberikan yang terbaik untuk bangsa dan Negara.

Wednesday, August 17, 2011

ARTI KEMERDEKAAN


[Arti kemerdekaan] KEMERDEKAAN
Mulyani Hassan, 17 Agustus 2011

Harapku puisi ini dapat dibacakan di depan seluruh rakyat Indonesia! 
Nyatakan bahwa harga mati sebuah perjuangan lahir dari sebuah niat, “aku ada di sini, untuk mereka dan tegaknya NKRI!”

Kemerdekaan adalah bedil
Yang keluar dari selongsong senapan prajurit
Ia menukik menyambar musuh dengan kejam hingga mati
Dalam senyap ia mematahkan sayap-sayap kebohongan angin
Yang menyampaikan kabar bahwa kita sudah bebas dari belenggu
Dan ia akan jatuh lagi ke tanah setelah jasad itu merata
Dan terlunta terpendam hingga suatu saat ditemukan kembali sebagai arca museum yang kemudian dipertontonkan dengan bangga

Kemerdekaan adalah seorang wanita tua
Yang terseok-seok menuju perapian, menyalakan tungku
Membakar kayu-kayu kering hingga mengobarkan api
Kemudian nasipun matang dan wanita itu bersiap menuju ke sawah mengantarkan Panganan untuk sang suami yang menyiangi rumput liar di antara pepadian
Dan ia akan kembali membawa bakul kosong
Dan mencoba berpikir bagaimana ia mengisi bakul itu kembali sampai penuh
Yang kemudian dia menjahit menumbuk menganyam dan membangun lumbung

Kemerdekaan adalah lampu lalu lintas
Yang menyala-nyala saat ada listrik di ibukota
Yang tak terlihat ketika aku ada di pelosok sana
Ketika hijau semua orang lewat dengan lancar
Kemudian berganti kuning sebagai tanda kehati-hatian
Apalagi merah menyala, dan orang berhenti seolah dia adalah satpam
Tak jarang orang menerobos merahnya
Kemudian lampu itu teruse menyala hingga lisrik padam

Kemerdekaan adalah benih
Kelak ia akan jatuh dari singgasana pepohonan
Dan kemudian tumbuh menjadi pohon yang baru
Menumbuhkan dedauanan dan buah yang bisa dimakan oleh makhluk hidup lain
Tapi benih itu tak mampu tumbuh apabila tanah ini gersang dan tak berair
Lalu ia juga akan menyusut menciut teredam di bawah pepasiran
Hingga suatu saat ada air yang menyentuhnya
Kemerdekaan adalah bebas bencana
Yang tak luput dari bencana alam dan moral
Ketika ia membendung airmata dan nurani karena moral yang terkikis
Mengalami erosi dan abrasi stadium empat
Ingin membebaskan sampai tergilas dari kesombongan dan keniscayaan
Kemudian bencana itu harusnya luput dari semut yang ada di ujung hidung

Kemerdekaan adalah referendum
Sebuah kepastian yang menyatakan bahwa aku milik Indonesia!
Bukan milik para penjajah jati diri
Menjual aset bangsa hanya dengan harga milyaran rupiah
Kemudian referendu itu bisa saja pupus
Terbakar dan hangus karena mereka geram
Geram dengan kebodohan tulisan-tulisan dan keputusan yang tak berani tegas!

Lalu, mereka yang tadi malam aku temui
Sapardi Djoko Darmono sang pelantun semangat kemerdekaan! 
Taufik Ismail dengan tetes airmata membacakan preambule UUD 1945
Idris Sardi sang maestro biola yang memainkan 12 lagu kebangsaan atas nama Tuhan
Saksi-saksi perjuangan bangsa ini menuju kemerdekaan itu,
Bimbang dengan arti kemerdekaan bagi negeri saat ini!

Generasi kali ini adalah generasi bimbang
Bimbang mau jadi apa bangsa ini ke depan
Bimbang mau dididik apa anak-cucu mereka
Bimbang apakah negara ini akan ambruk atau tetap berdiri megah
Akhirnya, hanya berpaku untuk menyiaokan dirinya sendiri menghadapi hidup layak
Makan tiga kali sheari dan kenyang dengan fasilitas tanpa melihat ada apa di bawah sana.... mereka takut, takut untuk susah!
Sementara yang susah, takut untuk mati kelaparan!
Mereka bimbang rumah kardus mereka akan digusur,
Maka mereka hanya bisa mengcrek di tengah jalan 
Berharap ada sesuap nasi disuguhkan ketika mereka mengemis!

Sebuah pertanyaan gila yang menyesakkan
Mau dibawa ke mana bangsa ini? 
Setelah arti kemerdekaan tak lagi mewacanakan paripurna kemerdekaan nasionalis
Lalu, dulu harga perjuangan diukur dengan seberapa besar ia mengabdi dan membangun bangsa,
Akhirnya dengan lungsuran peluru-peluru menembus ubun-ubun mereka
Tapi kini, harga perjuangan hanya diukur dengan materi
Kemegahan bangunan,
Nyamannya ruanag ber-AC
Berpestapora di atas kelaparan rakyat
Membuang sampah di halaman rumah rakyat
Membangun apartemen megah dan fasilitas gedung kerja
Membeli pesawat pribadi bahkan pulau
Menjual tanah air sendiri mengatasnamakan perdamaian
Aaaaakh.....aku tak boleh hanya menggerutu... kalau begitu....

Masih adakah arti sebuah kemerdekaan?


-Lahir dari suara hati rakyat kecil-

Saputangan Biru dari Raja Ampat

Saputangan Biru dari Tanah Raja Ampat


“Kini tiba saat kita kan berpisah
Berat hati ini lepaskan dirimu
Air mata tumpah mengenang budimu


Gunung dan tanjung terpele, wajahmu terpilih
Terbayang senyum manismu hancur hati ini
Sapu tangan biru kini basah sudah
Berpisah lewat pandangan bertemu dalam do’a”


Dua bait lagu itu selalu terngiang sejak aku mengangkatkan kaki dari tanah Asukweri, Waigeo Utara, Raja Ampat. Ah, tanpa sadar airmata berlinang mengenang syair ini. Deretan kata sederhana yang dilontarkan oleh bapa-bapa. Wajah-wajah keras dan legam mereka tak menutupi keikhlasan dan kesucian hati untuk tak sekedar mengucapkan terima kasih. Kulit bisa hitam, tapi hati mereka sangat putih. Lebih dari itu, sentak kami yang datang dengan tangan-tangan hampa, kini ketika akan pulang, diberikan sepucuk sapu tangan biru sebagai tanda bahwa kami adalah keluarga yang sangat dicintai tanah ini.
Bermodalkan gitar-gitar tradisional dan kepiawaian bernostalgia ala tanah papua, mereka menggetarkan hati dengan tetesan airmata. Tetesan airmata yang mengiringi rentak kaki. Rentak kaki kebersamaan. Rentak kaki yang serentak melingkari sang pemain musik. Rentak kaki yang akan segera meninggalkan tanah ini. Detik-detik ini, bahkan sebuah lagu adat mengantarkan kami untuk pulang--kembali ke tapal batas ibukota--dihaturkan dari bapak tetua kampung. Tak mahal memang, hanya sebuah lagu. Lagu yang berisi do’a dan cerita untuk sang anak. Seorang anak yang diharapkan dapat mengubah nasib bangsa. Seorang anak yang kelak akan membesarkan nama bangsanya di tanah orang. Dan tete-nene akan bercerita tentang kami pada cucu-cucu mereka, sang perantau yang dikasihi. Pada sebuah madah cinta, mereka mengukirkan nama kami satu per satu dalam hati. Tampaknya tak ada buah tangan, hanya sebuah sapu tangan. Sapu tangan biru, ya sapu tangan biru.
Kini, seminggu setelah tiba di Depok, aku hanya bisa termenung dan diam. Di balik megahnya masjid dan perpustakaan pusat UI, serta danau yang sudah mulai bersih, aku hanya bisa mengingat secuplik dari kisah itu.


***
Selasa, 26 Juni 2011


Berawal dari kumpul warga, di kediaman Kepala Badan Musyawarah Kampung, pertama kali aku dipanggil kaka oleh nene Ana. Nene yang menjadi istri kepala badan musyawarah kampung, tete Joni Wanma. Ya, nene-tete sebutan untuk kakek-nenek di tanah ini. Pertama kali aku disapa oleh masyarakat adat dengan kesantunan mereka. Pertama kali aku menyaksikan kearifan lokal yang menyejahterakan mereka sendiri. Pertama kali aku merasakan sejuknya air sumur di tanah berkuarsa saat meminumnya. Pertama kali aku melihat budaya masyarakat yang tak beralas kaki. Pertama kali aku menyadari bahwa syukur itu datangnya dari kebersamaan dalam kesempitan, bukan karena ada sinyal ataupun listrik dan bahan bakar serta kemegahan gedung-gedung dan alat transportasi. Pertama kali aku paham bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat patuh dengan orang tua, tanpa mengatakan Akh. Karena mereka telah mengajarkan aku banyak hal.
Pulang dari tanah ini, aku bisa menyalakan tungku dan memasak dengan kayu bakar. Yah, memang membuat mata perih saat asapnya menghinggapi mata, tak pelak pakaianpun beraroma asap. Tak hanya itu, meskipun tanganku menjadi kasar karena harus menimba air setiap hari, kulit menghitam karena harus menemani adik-adik main di pantai setiap hari, hubungan terputus karena tidak ada sinyal, malam-malam bermodalkan lilin karna tak ada listrik, siang hari terpanggang teriknya matahari saat melaksanakan program. Semua tak mengalahkan semangatku dan rasa syukurku bisa mengenal mereka. Akan terkenang selamanya.


Selasa, 17 Mei 2011


Dari kamar ini, aku bermula. Bermimpi untuk memberikan sinar bagi satu rasa atas tegaknya NKRI. Perjalanan yang hanya sekelibat mata, tapi pengalaman hidup yang luar biasa. Awalnya aku ragu dengan keputusan meninggalkan penelitianku yang di depan mata. Bahkan pembimbing saja sempat sinis memberikan pilihan, “K2N atau penelitian?”. Bahkan ibuku yang sudah setahun tak bertemu karena jauh di Bintan, sempat sinis juga memberikan pilihan, “K2N atau melepas rindu dengan ibu di rumah?”. Bahkan seminar ilmiah nasional sempat menggaungkan, “K2N atau presentasi oral hasil penelitian di Yogyakarta?”. Banyak bahkan yang lainnya, yang membuat aku dilematis untuk memberikan keputusan “Tribute to K2N UI 2011, sebuah harga mati bagi tegaknya NKRI dari titik perbatasan!”.
Akhirnya, aku sadari bahwa lulus 3,5 tahun tak jadikanku apa-apa, yang memaksakan penelitianku harus selesai semester ini. Bertemu dengan ibu masih bisa dilakukan saat pulang nanti. Berkiprah sebagai peneliti yang berkoar di atas podium masih ada pada kesempatan yang lain. Tapi, mengabdi di daerah perbatasan, tak bisa kutunda hingga saat-saat mendatang. Karena sejatinya, saudara kita di perbatasan belum merasakan tegaknya NKRI. Adalah suatu kegentingan, ketika aku harus memilih untuk melanjutkan perjuangan ini. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Tepat 17 Juni 2011, nomor pokok mahasiswa [0806315553] disebut sebagai 1 dari 5 peserta yang terancam gagal diberangkatkan ke tanah pengabdian. Ah, tak jadi soal untuk itu. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki. Ketika keletihan dan ketahanan fisikku harus menghujam di ujung pembekalan fisik dan mental ARMATIM Surabaya, aku masih bisa tersenyum. Ingat sekali hari itu, aku disuguhi 2 botol infus dan satu jam diselang oksigen. “Tak sadar dengan kemampuan jasmani sendiri”, mungkin kalimat itu yang sesuai dilontarkan karena aku akhirnya pingsan di tepi kolam renang. Hehehehe, ingin saja tertawa, menertawakan diri yang tak sempurna ini.


Tapi, Allah Maha Bijak, kehadiran pajuang-pejuang TNI di depan wajahku, malah membuat aku makin yakin. Aku bisa mengalahkan segala penyakit yang bersarang di tubuh ini. Dari barak di mana aku terbaring setelah bertarung dengan hipotermia, aku beranjak. Semangatku harus pulih, jiwaku harus bangkit dari menjadi manusia lemah. Hari ini mungkin aku gagal karena kondisi fisik dan penyakitku. Tapi aku tak boleh menyerah demi melihat senyum mereka yang di perbatasan. Tak pelak pada satu hari berikutnya, aku bisa melewati pelatihan sea survival yang diberikan pelatih dari komando pasukan katak (KOPASKA) tercinta, meskipun jasmani ini berteriak bahwa aku tak mampu. Semangat bertemu saudaraku di perbatasan adalah sebuah harga mati yang menggugurkan semua ketidakmampuan fisik.
Aha, akhirnya setelah 7 hari berada dalam asuhan TNI di ARMATIM, dengan bekal yang sungguh luar biasa, aku melanjutkan perjalanan ke tanah pengabdian. Saat itu, semangatku hanya ada karena satu hal, yakni bertemu dengan mereka di tanah Waigeo Utara. Aku tak melihat siapa yang ada di timku, aku tak melihat berapa banyak bekal yang kubawa, dan aku tak melihat betapa berat medan yang harus dialui dengan kondisi fisik seperti ini. Satu hal yang kuingat, “Aku ada di sana untuk mereka, karena aku mencintai mereka apa adanya”.
***


Maghrib hampir tiba, dan aku harus pulang karena akan berbuka puasa di kosan hari ini. Tapi, hati tetap mengingatnya....


Selasa, 21 Juni 2011






Selamat datang di Bandara Domine Edward Oso, Sorong, Papua. Setelah 4 jam perjalanan dari Surabaya, ingat sekali waktu itu berangkat pukul 23 WIB, transit di Makasar hingga pukul 3 WITA, dan kini tiba di Papua tepat pukul 8 WIT. Subhanallah, aku berhasil melintasi Waktu Indonesia sampai ke timur. Tak ada yang istimewa di bandara ini, hanya sebuah bandara kecil yang sepi. Tapi, sedikit canggung melihat manusia-manusia berkulit hitam dan terlihat sangar. Hanya saja, kebaikan dan keramahan mereka membuatku memutar anggapan sejauh 180 derajat. Mereka tak seseram yang dibayangkan.
Satu hal indah saat di perjalanan ketika satu timku merapatkan barisan dan saling membahu mengangkat barang keperluan program yang sangat berat dan banyak. Mereka adalah orang-orang terpilih, tak pelak sang porter bandara hanya melihat tenaga kami yang sangat besar, 19 orang handal secara estafet mengangkat barang ke truk pengangkut barang. Ketika porter-porter di bandara lain hanya bisa menggerutu karena tak kami gubris tawarannya, justru para porter di bandara ini tersenyum dan menyemangati kami untuk mengangkut barang ke atas truk. Ya, dengan truk itu pula kami menuju rumah dosen pembimbing yang jauhnya hanya 5 menit dari bandara.
Cukup sudah, istirahat sejenak kemudian kami segera angkat kaki....tiba-tiba berita bahwa baru jam 2 siang ada kapal yang berangkat ke Waisai. Pertanyaan pertama, kenapa harus berangkat ke Waisai? Kenapa tidak langsung ke Kabare, lokasi kami mengabdi. Sampai akhirnya terjawab sudah, “su su... kalian tarra bisa berlayar karna angin kencang. Torang harus di Waisai sampai ada kapal ke Kabare dan angin menyimpan”, ujar kaka Ritha kepadaku. Kaka Ritha Mambraku adalah asisten dosen pendamping. Beliau adalah wanita luar biasa yang selalu membantu kami selama program berlangsung. Sejenak aku berpikir apa artinya. Kira-kira begini, kami tidak bisa berangkat karena angin kencang di laut. Kita harus tetap di Waisai sampai ada kapal ke Kabare dan angin tenang. Memang, hanya kapal perintis yang bisa mengangkut kami ke lokasi. Karena mempertimbangkan keselamatan diri dan barang-barang bantuan yang dibawa. Sebenarnya, ada kapal lain seperti jonson dan kapal cepat, perahu motor yang ukurannya muat untuk 10 sampai 20 orang. Akan tetapi, cuaca sangat buruk sehingga kami harus bertahan satu minggu di Waisai. Sedikit bercerita tentang Waisai, ibukota kabupaten Raja Ampat. Terletak di Waigeo Selatan, meskipun ibukota, tapi kabupaten ini masih sangat perawan. Tidak ada pusat perbelanjaan, tidak ada gedung tinggi, cuma ada satu traffic lamp di dekat pos kepolisian, dan satu pasar tradisional. Warung internet? Tak banyak, tapi cukuplah, dengan harga mahal sekali, harus merogoh kocek 10 ribu rupiah untuk 1 jam online.
Kata abang Joe, seorang pemilik warnet lulusan sistem informasi di salah satu universitas swasta di Bandung, keberadaan warnet di sini untuk menunjang kegiatan pemerintah daerah akan akses informasi. Warnet di sini juga bantuan dari pemda dan ia mendapatkan dana bantuan, sehingga per bulan ia hanya menyetor 7 juta rupiah. Mungkin terdengar murah (untuk seukuran harga Papua), tetapi harga itu sangat mahal dibandingkan pemasukan. Bayangkan saja, dari 4 jam mungkin hanya 2 sampai 3 orang yang menggunakan akses internet, dengan durasi 2 sampai 3 jam. Yah, mungkin hanya 3 juta penghasilan per bulan. “Jadi bayar sisanya darimana bang? Ya, biasanya saya objekin ini untuk pelatihan anak-anak sekolah, lumayan pendapatannya”, aku hanya bergumam dan terdiam sejenak.
Bagaimana kalau mau print atau fotokopi? Hm, tak mahal memang, print hitam putih hanya 1500 rupiah dan fotokopi 300 rupiah, itu harga per lembar. Sempat, sedikit menyesakkan ketika kami harus menghabiskan 600 ribu hanya untuk ngeprint 60 halaman dan fotokopi 600 halaman. Tapi, semua itu tak jadi masalah, masih bisa diatasi dengan dengan senyum dan sabar.
Hingga satu minggu sudah, kami baru bisa berangkat ke lokasi. Menyusuri pantai pesisir yang berbatasan langsung dengan samudera pasifik. KM Raja Ampat 1, yang telah beroperasi sejak tahun 1980-an, kini kami tumpangi dengan gagah. Penuh sesak di dalam kabin penumpang hingga menggeser kami ke dek kemudi kapten kapal. Isinya adalah warga distrik dan pulau-pulau di sekitarnya serta barang-barang langka di pulau, yang dibeli dari kota Sorong atau Waisai. Bapa-mama sangat ramah, selalu tersenyum dan menyapa saat kami melewati mereka-meskipun tak satupun mengenal kami-. Suatu kearifan luar biasa yang tak pernah kudapat di kota besar. Ya, itu yang membuat aku senang dengan masyarakt Papua.
Perjalanan ditempuh selama 18 sampai 24 jam ke lokasi (Kabare, ibukota Distrik Waigeo Utara). Kapal ini sudah terlihat terlalu tua, bahkan baling-balingpun tinggal satu hingga hanya bisa melaju 4-6 knot. Maka tak heran, kapal cuma bisa ada dua pekan sekali. Lamanya perjalanan tak terasa karena kami dapat menikmati indahnya surga dunia Raja Ampat. Berjam-jam kami disuguhi oleh alunan air biru bening dari pantulan langit, sesekali gerombolan lumba-lumba berlompat-lompatan, elang-elang dan rangkong terbang kemudian menukik menyambar ikan-ikan di permukaan laut, ikan-ikan terbang berlomba-lomba mengepakkan “sayap”, dan pelangi di antara pulau-pulau tersenyum, serta angin laut membahana, sungguh mendinginkan hati dan pikiran. Seolah semua letih dan keluh kesah hilang tanpa beban.
Perlahan signal mulai menghilang dan kamipun terbuai dengan indahnya laut Raja Ampat. Hingga malam menyapa, dan kami dihibur oleh hamparan bintang-bintang seperti pasir putih di balik gelapnya langit. Sekali-kali bintang-bintang itu jatuh dengan indahnya dan ada harapan besar yang terselip di antara kalimat kagum ini, Allah akan melindungi kami, anak-anak pengabdi bagi negeri. Tibalah pukul 4 pagi tanggal 27 Juni 2011 di tanah Kabare, Distrik Waigeo Utara. Kupandang alam subuh ini, tak ada adzan.... kemudian kami mencari, ternyata ditemukan sebuah masjid. Masjid satu-satunya di tanah ini. Beriringan menuju pendopo, ketika kewajiban wudhu dan sholat mulai ditunaikan....


Sebuah rasa syukur mengalir dan mutiara hitam dari tanah Raja Ampat dialunkan dengan merdu....


“Nuansa alam tersenyum damai
Saksikan kejujuran dua hati
Mengucapkan kata menyatukan cinta di 
Pulau Raja Ampat
Terkenang takkan terlupa
Kebahagiaan di tempat yang indah
Rasa damai membasuhi jiwa,
Kudapat bersamamu 
Oh... sang cinta
Kan selalu ada selalu terjaga
Di dalam setia ini
Takkan dapat tergantikan seperti makna indah Raja Ampat
Jiwa ini raga ini hanyalah milikmu
Jangan pernah tinggalkan aku,
Karna aku ingin selalu bersama denganmu
Jangan pernah engkau tinggalkan aku,
Karna engkau mutiara hati
Yang takkan terlupa”


***
Selasa, 19 Juli 2011


Akhirnya, tiba di Waisai kembali. Dalam keadaan setengah sadar, lambungku tak mampu membendung HCL berlebih, penyakit ini hanya menganggu hari-hariku di sini. Tapi, tetap dengan semangat yang konsisten dan keluarga baruku di tim K2N Raja Ampat, aku menjadi manusia yang sangat kuat. Bahkan dalam menerima kenyataan bahwa perjuangan kami di tanah Waigeo, harus terputus di tengah jalan. Mengapa aku bilang begitu? Semula direncanakan kami akan menyelesaikan program tepat tanggal 24 Juli, tapi apa daya, karena alasan transportasi, maka panitia harus memaksa kami pulang 10 hari lebih cepat dari rencana. Tak pelak, semua program yang disusun tak bisa dilaksanakan.
Ah, bukan hanya kecewa yang terasa. Tapi lebih dari itu, sebuah tanggungjawab moral kepada masyarakat Waigeo, di mana janji-janji pertemuan kami, janji-janji pelatihan kami, janji-janji diri kami untuk membuka cakrawala masyarakat kampung di Waigeo, kini harus pupus. Betapa besar harapan mereka, kami datang dengan informasi dan ilmu, yang tak mungkin didapatkan dari pemerintahnya sekalipun. Betapa besar keinginan mereka untuk bersama-sama kami membangun masyarakatnya, mengembangkan potensi sumber daya alam dan manusianya, melalui cerita dan cara saling berbagi, meskipun hanya sebentar.
Hari-hari kami lewati dengan menghabiskan waktu bersenda gurau, bermain, dan belajar bersama anak-anak di tanah Asukweri. Melalui program rumah kreatif maupun bermain di alam, secuplik cara untuk mengakrabkan diri dengan keindahan pantai Raja Ampat. Setiap hari, pemandangan akan anak-anak tanpa alas kaki, wajah-wajah legam dan berpasir mereka tertutupi rambut yang keriting menjuntai, bibir-bibir mereka dipenuhi pasir, sambil bermain mereka menggendong adiknya yang kumal karena tak berbaju dan beringus. Ah, ciri itu membuat aku senang, karena kami di sini untuk memeberi perubahan. Sedikit demi sedikit mereka mau diajak mencuci tangan, menggosok gigi, mandi, dan memakai baju rapi setelah pulang dari kebun.
Mama-mama yang pintar memasak, memberi kami ilmu dalam membuat papeda, shinole, dan tomboe. Makanan apa itu? Panganan dari sagu, kasbi (singkong), dan kelapa parut. Yang kini mulai tergerus zaman, karena pemerintah berhasil mem-beras-isasi nusantara. Ternyata, mereka sudah hanya memakan beras, dan sekali-kali memakan sagu. Tak lepas dari itu, mama-mama tiap hari bertani membantu suami. Bapa-bapa cuma melaut dan mencari ikan untuk makan sehari-hari.


Lamet dan kasbi bakar
Shinole basah




Papeda dan ikan bumbu putih


Dan itu sudah membuat mereka sejahtera, dengan tanah Tuhan, dengan kearifan lokal, mereka sejahtera. Apa yang kami lakukan di sini? Tak boleh kami merubah adat tanah ini, kami hanya menyampaikan informasi bagaimana hidup bersih dan sehat, bagaimana mendidik anak cacat, bagaimana membangun semangat anak-anak untuk bersekolah, bagaimana membuat makanan yang bisa dijual, dan bagaimana mereka mau mengembangkan sumber dayanya dengan tangan sendiri. Bukan dari proyek atau perusahaan yang hanya akan menguntungkan segelintir konglomerat. Sederhana memang, tapi mereka membalas dengan harga yang luar biasa.
Pelayanan yang memuaskan dari masyarakat, setiap hari disuguhi ikan segar hasil melaut, kasbi (singkong), kayu bakar, sayuran, sekali-kali datang seorang anak membarter nanas dengan gula atau beras. Dan sekali lagi, mereka mengajarkan tolog-menolong tanpa batas. Pernah suatu hari, dalam keadaan lelah, kami tiba di penginapan dengan rumah sangat bersih dan rapi, serta makanan tersedia di atas meja. Yang ternyata, mama Peter dan keluarga yang membantu kami. Ah, luar biasa masyarakat ini. Mana bisa aku temukan mereka di kota besar, bahkan tempatku lahir sekalipun. Meskipun pendidikan mereka terbatas sampai SD, SMP, atau SMA dengan tenaga pengajar yang tak mumpuni, tapi mereka tau bagaimana menghargai, jujur, dan hidup sederhana serta saling menolong. Mereka tak butuh guru matematika, fisika, ataupun biologi, untuk memahami hukum aksi reaksi dalam hubungan fisik maupun rohani. Adat gereja yang kental, meskipun 100% beragama protestan, tapi toleransi yang kuat kepada kami, yang membuat rumah penginapan ini memiliki mushola, juga satu hal luar biasa. Ya luar biasa... kemudian suatu saat aku dan mereka akan kembali bertemu tak hanya dalam do’a.

Sapu Tangan Biru Buah Tangan dari Asukweri


Mungkin kali ini aku tak bisa tersenyum dengan mereka
Karna aku harus melanjutkan hidup di medan lain
Tapi, satu hal...
Harga mati untuk sebuah pengabdian bukan terletak pada apa yang ingin diberikan, tapi terletak dari sebuah tekad, bahwa,
“Aku memang bukan siapa-siapa, tapi aku ada di sini. Ada untuk mereka, karena aku mencintai mereka apa adanya”.

-Sebuah kalimat yang lahir atas nama Allah SWT-
Sudah bedug, dan aku harus berbuka puasa...



Assesment di Asukweri

Penyuliuhan kesehatan di SMPN 3 Kabare




Bermain di Pantai Asukweri